Email : info@unisri.ac.id;ppmb@unisri.ac.id | Telp. : 0271-853839
Home » Berita » Melestarikan Budaya Jawa Melalui Pranatacara

Melestarikan Budaya Jawa Melalui Pranatacara

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Solo Dr Dian Esti Nurati, MSi, tahun ini menerima dana hibah pengabdian kepada masyarakat, IbM, Ristekdikti. Ada pun topik garapan program dia adalah “Meningkatkan SDM Masyarakat Melalui Pelatihan Pambyawara di Pawiyatan Mangesti Budoyo dan Pawiyatan Manunggal Makarti Mulyo Desa Makamhaji Kartasura, Sukoharjo”.

Hal yang melatarbelakangi kegiatan itu adalah adanya kepedulian terhadap seni budaya sebagai bagian dari potensi wisata  di Kabupaten Sukoharjo. Antara lain dimotori oleh kelompok masyarakat yang menamakan diri Pawiyatan Pambyawara. Pranatacara atau sering disebut pambyawara, pranata adicara, pranata titi laksana atau pranata laksitaning adicara adalah salah satu jenis pekerjaan yang berhubungan dengan suatu pertemuan atau acara dalam masyarakat Jawa. Berikut pandangan Dr Dian Esti Nurati, MSi tentang pranatacara atau pambyawara.

PRANATACARA dalam bahasa Indonesia disebut pewara. Pranatacara merupakan pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus karena yang bersangkutan harus memahami benar susunan suatu acara menggunakan bahasa Jawa krama Inggil. Pranatacara sering dihubungkan dengan upacara adat Jawa, seperti pengantin (temanten), kematian (kesripahan), pertemuan (pepanggihan), perjamuan (pasamuan), pengajian (pengaosan), pentas, dan sebagainya.

Kehadiran pranatacara dalam masyarakat Jawa adalah bagian dari pelestarian budaya Jawa yang adiluhung sebagai sumber kearifan dalam kehidupan bermasyarakat dan mencerminkan identitas lokal masyarakat Jawa. Sehingga akan sangat penting bagi masyarakat Jawa untuk tetap melestarikan budaya itu dalam kehidupan. Semakin banyak orang mengenal dan mendengar bahasa Jawa di ranah publik, maka semakin kokohlah bahasa Jawa sebagai cermin budaya bangsa yang ikut membesarkan bangsa Indonesia.

Profesi pranatacara juga sudah mendapat pengakuan dan penghargaan yang baik dari masyarakat dan terua berkembang menjadi profesi menguntungkan. Peran pranatacara dalam acara-acara resmi maupun hiburan, tetap menjadi tolak ukur sukses tidaknya suatu acara. Sehingga dapat dibayangkan bagaimana bila suatu acara tidak ada pranatacaranya, maka acara itu akan terasa tidak urut dan tidak enak dilihat.

Untuk menjadi pranatacara tidak hanya mempunyai bekal keberanian saja, tetapi juga harus mempunyai bekal kemampuan. Keberanian akan timbul apabila seseorang mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, dan rasa percaya diri ini timbul bila seseorang mempunyai keyakinan atas kemampuan yang dimiliki.

Seorang pranatacara harus dapat melafalkan dengan benar kata-kata bahasa Jawa krama inggil. Mereka juga diwajibkan mampu mengendalikan suaranya agar tetap menarik dan tidak menjemukan. Selain suara, nafas juga harus di kendalikan secara teratur. Beberapa syarat yang biasanya menjadi dasar bagi pranatacara agar mampu melaksanakan tugasnya antara lain adalah, memiliki kemampuan olah swara (teknik vocal).

Pranatacara harus mengutamakan, memperhatikan penampilan. Peribahasa dalam bahasa Jawa menyebut, ajining diri gumantung kedaling lathi, ajining raga gumantung ing busana. Peribahasa itu sesuai profesi pranatacara. Seorang pranatacara akan tampil sangat bagus jika didukung bagusnya suara, postur badan dan pakaiannya. Olah raga berhubungan dengan sikap, solah bawa, kesusilaan, dan subasita. Olah raga, atau cara berpenampilan yang baik bagi pranatacara selalu diawali keadaan tubuh yang sehat, suara yang tidak serak, volume suara yang enak didengar, tidak melengking dan tidak rendah.

Pambyawara juga harus mengenali tempat dimana acara diselenggarakan, mengenali karakteristik tamu dan memandang mereka sebagai sahabat. Ia bisa melakukan gerakan tangan seperlunya saat berada di atas pentas, tidak berlebihan apalagi untuk menutupi kegugupan, karena gerakan tubuh yang berlebihan hanya akan mengacaukan penampilan dan tampil percaya diri.

Olah busana atau cara berpakaian yang baik bagi pranatacara merupakan hal yang wajib diketahui dan dimengerti dengan baik agar penampilan dan gaya berpakaian sesuai acara yang sedang dibawakan. Memakai pakaian yang serasi/cocok dengan acara, harus dibicarakan dengan panitia. Contohnya ketika menjadi pranatacara adat temanten Jawa, apakah menggunakan pakaian adat/kejawen (busana adat Ngayogyakarta atau Surakarta), seragam dengan panitia ataukah tidak, menggunakan busana nasional/formal ataukah tidak. Busana dalam acara pernikahan tentu akan berbeda dengan busana ketika menjadi pranatacara kematian. Busana resmi akan berbeda dengan busana santai. Busana yang dipakai dalam acara di dalam gedung pasti berbeda dengan acara di rumah. Warna busana pun harus dipilih dengan seksama, agar tidak terlihat menyolok, terlalu terang, atau terlalu banyak memakai aksesoris.

Seorang pranatacara harus memiliki kemampuan “Olah basa lan sastra” (kemampuan berbahasa dan sastra). Agar dapat mengolah bahasa dengan baik, seorang pranatacara harus mengetahui dan memahami paramasastra (fonologi, morfologi, semantik, sintaksis), wacana, dan pragmatik. Pengetahuan yang luas mengenai paramasastra Jawa diharapkan dapat membuat pranatacara mampu mengucapkan kata-kata, frasa, kalimat, ungkapan, wacana Bahasa Jawa krama inggil dengan laras dan leres. Laras artinya, pranatacara mampu menggelar acara sesuai dengan keadaan dan suasana. Leres artinya pranatacara bisa menggunakan bahasa yang sesuai dengan paramasastranya.

Berdasar keinginan masyarakat yang difasilitasi dalam kegiatan Pawiyatan Pambyawara atau Pranatacara, untuk melestarikan seni budaya tersebut masyarakat di wilayah Desa Makamhaji mendukung adanya Pawiyatan Pambiyawara Mangesti Budoyo yang berlokasi di RW 14 dan Pawiyatan Manunggal Makarti Mulyo di RW 15. Pawiyatan ini didirikan oleh tokoh-tokoh masyarakat di lingkungan kedua rukun warga itu sekitar tahun 2000 silam dan sampai sekarang telah berjalan selama kurang lebih 15 tahun. Masing-masing pawiyatan diikuti 20 sampai 30 warga setiap angkatan.

Pawiyatan ini memiliki Dwija atau guru atau pelatih bernama KRAT Radjana Pradja Dipura dari Pawiyatan Pambiyawara Keraton Kasunanan Surakarta. Materi pelajaran yang diberikan berupa pengetahuan tentang Pambiyawara atau Pembawa acara berbahasa Jawa. Dimana keterampilan Pambiyawara itu sering dipergunakan masyarakat yang punya hajat mantu dan lain sebagainya.

Dengan memiliki keterampilan tersebut, seorang pembiyawara yang sudah profesional biasanya memperoleh penghasilan cukup lumayan. Terlebih pada bulan-bulan dimana sedang musimnya orang punya hajatan mantu.

Keterampilan sebagai Pambyawara, biasanya disertai keterampilan lainnya, misal nembang mocopat untuk selingan dalam melaksanakan tugas dengan diiringi seperangkat gamelan atau karawitan.

Meski selingan, ketrampilan macapat harus dikuasai pambiyawara apabila sedang melaksanakan tugas. Gending-gending macapat sebagai pengiring upacara pahargyan penganten, biasanya diambil dari gending-gending Keraton Kasunan Surakarta, ciptaan para raja Keraton Surkarta. Jadi sifatnya sakral dan diyakini bisa membawa berkah bagi pengantin.

Pelajaran ketiga yang sangat penting untuk diketahui dan dikuasai pranatacara yakni ngadi busana. Yakni tata-cara berpakaian orang Jawa, dimana cara berpakaian harus cocok, serasi, dan pas dalam memakainya. Sebagai kelengakapan busana jawi jangkep terdiri dari beberapa perlengkapan. Yakni destar/blangkon, beskap, nyamping, setagen, sabuk, epek, timangan, keris dan selop atau sandal. Berbusana Jawa harus disesuaikan dengan keperluan acara. Misalnya untuk pahargyan atau perhelatan pengantin dan untuk kesripahan atau kematian tentu sangat berbeda.

Pengetahuan dan keterampilan tersebut biasanya harus dimiliki orang Jawa. Seperti masyarakat di Desa Makamhaji yang sampai saat ini masih melestarikan dan mewariskan secara turun- temurun dari generasi ke generasi.

Dalam upaya menumbuhkan kesadaran akan arti pentingnya pewarisan seni budaya sebagai kearifan lokal masyarakat setempat, maka diperlukan upaya-upaya memberikan nilai-nilai budaya tersebut kepada komponen masyarakat luas melalui kegiatan pelatihan-pelatihan. Dalam hal ini keberadaan Pawiyatan Pranatacara atau pambyawara sangat penting peranannya. Pawiyatan Mangesti Budoyo dan Pawiyatan Manunggal Makarti Mulyo merupakan lembaga yang bersinergi dalam mengembangkan seni budaya lokal khususnya Pambiyawara, seni Macapat dan seni Berbusana Jawa. Disamping sebagai nguri-uri melestarikan budaya juga secara profesional mampu meningkatkan ekonomi para pelakunya.

Permasalahan yang dihadapi PKBM  Mangesti Budoyo dan PKBM Manunggal Makarti Mulyo , antara lain sebagai berikut :

Upaya menumbuhkan Seni Budaya tradisional, khususnya keahlian pranatacara, yang mampu dijadikan sebagai profesi pada masyarakat Jawa, yang pada akhirnya bermanfaat sebagai memperoleh penghasilan serta meningkatkan ekonomi para pranatacara.

Upaya tersebut memerlukan adanya pelatih yang betul-betul memiliki kemampuan di bidang keahlian pranatacara, yang biasanya diperoleh dari para lulusan Pawiyatan pambyawara Karaton Kasunanan Surakarta. Langkanya pelatih tersebut perlu dipikirkan pihak pawiyatan pambyawara di Desa Makamhaji.

Terbatasnya dana untuk menunjang kegiatan pelatihan sehingga menimbulkan terbatasnya sarana dan prasarana untuk pelatihan. Belum tersedianya koleksi Gending-gending dalam bentuk rekaman atau CD yang dibutuhkan sebagai perangkat pembelajaran.

Terbatasnya atau tidak adanya alat belajar berupa Perangkat Pakaian Jawa sebagai alat peraga atau praktek  pelatihan belum dimiliki oleh kedua PKBM ini, sehingga perlu pengadaan pada masing-masing PKBM yang disesuikan dengan jumlah peserta pelatihan atau siswa. Sarana belajar yang utama berupa sound-system yang ada masih sangat sederhana, sehingga kurang mendukung kegiatan belajar.

Ketersediaan pawiyatan pranatacara akan bahan Materi Ajar yang dirangkum oleh para dwija atau pelatih, baik yang berupa buku ataupun rekaman CD sehingga kegiatan pelatihan hanya didasarkan pada komunikasi lisan dari pelatih kepada peserta pelatihan. Minat generasi muda yang mengikuti pelatihan sangat rendah, perlu diberikan motivasi kepada para generasi muda di lingkungan setempat agar berminat mengikuti pelatihan tersebut sebagai wujud pewarisan budaya kepada  generasi muda yang berkesinambungan.

Berdasar pada permasalahan yang ada pada kedua Pawiyatan Pambyawara di Desa Makamhaji tersebut, maka solusi yang akan kami tawarkan adalah sebagai berikut :

Mendorong anggota masyarakat yang berkompeten di bidang keahlian pambyawara agar bersedia meningkatan kualitas sumber daya manusianya di bidang seni budaya pambyawara atau pranatacara.

Mengikut sertakan ataupun mengadakan sarasehan, diskusi, seminar, yang ada kaitannya tentang pengetahuan tentang ketrampilan sebagai pranatacara, dengan menghadirkan pihak-pihak yang berkompeten dari Keraton Kasunanan Surakarta, Tokoh Masyarakat, Pelaku Budaya, ataupun Pemerintah Kota Surakarta.

Mendorong, memotivasi warga masyarakat, khususnya para generasi muda untuk berpartisipasi dalam pelestarian seni budaya Jawa, dengan masuk sebagai anggota pawiyatan pranatacara.

Menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk kegiatan pawiyatan, Pranatacara, Sekar / Gending-gending Mocopat, Ngadi busana Jawi jangkep, Pengetahuan tentang Adat Pernikahan Penganten Jawa.

Merancang dan menyajikan sarana materi pelatihan yang diwujudkan dalam bentuk buku ataupun CD, sehingga memudahkan apabila para siswa ingin melakukan latihan dan simulasi secara mandiri ataupun secara kelompok.

Mengadakan kunjungan-kunjungan dalam rangka studi banding dan pengamatan diberbagai tempat Pusat Budaya, antara lain, Keraton Kasunanan Surakarta, Pura Mangkunegaran, Musium Radya Pustaka, dan sebagainya.

Menyelenggarakan pelatihan pranatacara dengan sarana yang telah dipersiapkan, antara lain, Pelatih atau Dwija, Materi pelatihan dan perangkat simulasi untuk latihan Mocopat serta Ngadi Busana atau cara berpakaian adat Jawa.

Kegiatan Pelatihan Pambyawara yang diselenggrakan ini telah  menghasilkan beberapa ketrampilan, yaitu:

Tersusunnya jadwal pelatihan yang tetap, sehingga memenuhi target pembelajaran yang sesuai materi pelatihan.

Tersedianya Materi Kurikulum yang baku, sehingga kegiatan pelatihan berjalan dengan dasar materi Pawiyatan yang baku.

Peningkatan kualitas kepelatihan dengan Pelatih yang kompeten dan kegiatan pelatihan yang terprogram.

Tersedianya koleksi Gending-gending sebagai perangkat pembelajaran dan praktek simulasi Mocopat.

Tersedianya Sarana Perangkat Pakaian Jawa sebagai alat simulasi atau praktek  pelatihan (Blangkon, Jarik, Beskap, Sabuk, Epek, Keris dan selop).

Mendorong minat generasi muda di lingkungan warga masyarakat Makamhaji, untuk mengikuti pelatihan Pambiyawara, Macapat dan Ngadi Busana, sebagai wujud alih generasi di bidang seni budaya Jawa adi luhung.

Berkembangnya profesi pambyawara sebagai sarana untuk mencari pendapatan di kalangan masyarakat Desa Makamhaji.

Galeri Foto

Pada Tanggal : 09 November 2017 | Oleh : Humas Unisri
Facebook Twitter Google Digg Reddit LinkedIn Pinterest StumbleUpon Email

TERKAIT


KATEGORI

Copyright 2017 | unisri.ac.id | UPT Komputer UNISRI