Home / Berita / PTS Merana Karena Corona

PTS Merana Karena Corona

Oleh : Sutoyo
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjsama Universitas Slamet Riyadi Surakarta
Alumni Program Doktor Ilmu Pendidikan UNS

GONJANG ganjing pandemi corona virus disease (covid 19) yang melanda negeri ini, dirasakan semua kalangan di semua aspek kehidupan. Bahkan membuat pusing tujuh keliling para petinggi negeri. Bagaimana tidak, seluruh tenaga, pikiran, dana termasuk jiwa dan raga dipertaruhkan untuk menghentikan wabah covid 19. Pejabat dari tingkat Menteri, Gubernur, Wakil Gubernur, Bupati, Wakil Bupati, Wali Kota, Wakil Wali Kota, para dokter dan tenaga medis, para pengusaha, para pedagang, para petani, para ibu rumah tangga bahkan anak-anak tidak luput dari amukan corona.

Sampai saat ini belum ada tanda tanda kapan akan berakhir. Belum ada satu pun ahli dari bidang apa pun yang berani menyatakan dan menjamin kapan wabah ini berakhir. Petinggi negeri yang mempunyai otoritas kekuasaan untuk mengeksekusi melalui pernyataan pun belum mempunyai keberanian untuk bersuara. Bahkan para supra natural yang biasa bersuara, menyumbangkan pemikiran melalui berbagai ramalan belum juga kunjung datang. Sungguh luar biasa wabah corona virus. Dalam sejarah kehidupan manusia, baru virus corona menjadi pandemi dan menelan korban jiwa hingga 211.000 orang dari 3 jutaan kasus positif, sampai 28 April 2020. Data ini nampaknya akan terus bertambah tiap hari dalam kurun waktu yang belum ada kepastian berakhir.

Dunia pendidikan, khususnya Perguruan Tinggi, mau tidak mau, siap tidak siap, terkena imbas langsung. Dampak paling dirasakan Perguruan Tinggi Swasta. Disadari sepenuhnya kondisi Perguruan Tinggi Swasta sangat hiterogqen, baik dari kuantitas maupun kualitas. Sebagian besar sumber dana dari mahasiswa, sangat sedikit Perguruan Tinggi Swasta memiliki sumber dana selain dari mahasiswa.
Perguruan Tinggi mempunyai kewajiban menyelanggarakan Tri Dharma, meliputi dharma di bidang pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Di samping itu, Perguruan Tinggi Swasta dituntut menyelenggarakan kegiatan kemahasiswaan dan kegiatan penunjang. Hal-hal inilah yang harus dilaksanakan Perguruan Tinggi dalam kondisi dan keadaan apa pun. Pada kondisi normal tidak jadi soal dalam menyelenggarakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, kegiataan kemahasiswaan dan kegiatan penunjang. Tetapi pada kondisi pandemi covid 19 yang tidak ada kepastian inilah yang menjadi masalah dan tantangan bagi Perguruan Tinggi Swasta untuk tetap menjaga kualitas, eksistensi dan, keberlanjutan.

Realitasnya, sejak pertengahan Maret, proses penyelenggaraan Pendidikan Tinggi semester genap tahun akademik 2019/2020 yang baru satu setengah bulan dihantam covid 19. Kebijakan social distancing dan physical distancing diterapkan. Mau tidak mau, siap tidak siap Perguruan Tinggi Swasta harus mensikapi secara cerdas dan bijak. Sebab, social distancing dan physical distancing membatasi gerak dan aktivitas civitas akademika secara masal dalam kerumunan dan harus menjaga jarak antar orang. Padahal, pada dasarnya kampus itu tempat berkumpulnya banyak orang untuk belajar, praktek di laboratirium, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, berkegiatan di bidang ilmiah dan penalaran, bidang minat dan bakat olah raga dan seni, bidang kesejahteraan dan kewirausahaan, bidang penyelarasan dunia kerja, dan berkegiatan di bidang pembinaan mental kebangsaan mahasiswa.

Efektivitas penyelenggaraan kegiatan kampus, kualitas pembelajaran dan outputnya, eksistensi keberadaan dan keberlanjutan kampus sungguh dipertaruhkan. Satu-satunya cara yang diambil adalah penyelenggaraan kegiatan dalam bentuk daring atau online. Kegiatan daring diyakini merupakan solusi cerdas dan bijak untuk menyelanggarakan kegiatan kampus. Kegiatan dilakukan melalui daring atau online, di antaranya rapat-rapat, perkuliahan, ujian tengah semester dan akhir semester, pembimbingan skripsi, thesis dan disertasi beserta ujiannnya, bahkan wisuda ada yang melalui online, meski model daring juga belum teruji tingkat efektivitasnya.
Padahal dalam kondisi normal kegiatan daring hanya merupakan vaariasi dari model pembelajaran yang digunakan para dosen. Karena, bagaimana pun kegiatan langsung dengan interaksi secara tatap muka dengan berbagai pihak sudah menjadi standar operasional prosedur yang terbiasa dilakukan dan diyakini lebih efektif. Di sisi lain masih banyak kegiatan di bidang akademik dan kemahasiswaan yang tidak bisa terselenggara melalui daring, khususnya kegiatan kemahasiswaan. Kegiatan kemahasiswaan pada semester genap tahun akademik ini kurang lebih 80 persen tak terlaksana. Bahkan sebagian besar program kegiatan kemahasiswaan nasional juga terhenti.

Ada tuntutan minimal yang merupakan konsekuensi logis dari kegiatan daring, di antaranya komitmen petinggi Perguruan Tinggi Swasta, kultur dan karakteristik Perguruan Tinggi Swasta, sarana prasarana berupa alat dukung teknologi informasi dan komunikasi khususnya internet, sumber daya manusia baik dosen, staf, dan mahasiswa yang meliputi sikap mental dan kompetensi penguasaan teknologi. Jika hal-hal semacam itu kurang diperhatikan dan kurang tersedia akan menjadi batu sandungan dalam kegiatan daring. Dalam prakteknya, masih banyak perguruan tinggi belum memenuhi tuntutan minimal, terutama Perguruan Tinggi Swasta yang masih kecil dan belum maju.

Ada tantangan besar yang dihadapi Perguruan Tinggi Swasta di masa pandemi covid 19, yakni tantangan kualitas, eksitensi kelembagaan dan keberlanjutan. Karena kualitas jadi standar ukuran Perguruan Tinggi Swasta, maka dengan segala daya upaya dilakukan Perguruan Tinggi Swasta untuk mewujudkan kualitas itu. Pemerintah sudah memberi rambu-rambu dan kriteria sebagai Perguruan Tinggi berkualitas. Di mana Perguruan Tinggi minimal harus memenuhi 24 standar nasional Perguruan Tinggi sesuai Peraturan Menristekdikti No.44 Tahun 2015. Pertanyaannya, apakah kalau Perguruan Tinggi Swasta sudah memenuhi standar itu bisa dikatakan berkualitas? Tentunya belum, karena 24 standar nasional itu baru standar minimal yang harus dipenuhi. Perguruan Tinggi masih harus mengembangkan dan meningkatkan standar dengan menambah standar yang ada.
Pada kondisi normal saja masih banyak Perguruan Tinggi Swasta sempoyongan untuk mewujudkan, apalagi pada saat-saat seperti ini. Oleh karena itu, ini merupakan tantangan sekaligus peluang bagi Perguruan Tinggi Swasta. Perguruan Tinggi Swasta yang mempunyai komitmen tinggi, visioner, dan dapat melakukan strategi jitu, maka akan dapat bertahan dan eksis di tengah goncangan badai covid 19. Sebaliknya Perguruan Tinggi Swasta yang tidak mempunyai bekal itu kemungkinan akan tenggelam di tengah ombak covid 19 dan hilang dari peredaran dalam percaturan perkampusan di Indonesia.
Bagaimana tidak, covid 19 berdampak secara nyata terhadap perekonomian secara individu, kelompok maupun nasional serta berdampak terhadap psikologi dan mental masyarakat. Dampak ekonomi akan membuat orang melakukan langkah-langkah efisiensi dan memangkas kebutuhan yang tidak pokok. Dampak psikologis dan mental akan membuat orang berpikir pragmatis, rendah motivasi, dan hanya berserah diri pada keadaan. Dampak tersebut akan ada efek karambolnya, termasuk keinginan seseorang memasuki dunia Perguruan Tinggi.

Bagi mahasiswa yang masih aktif dan belum lulus juga akan mengalami kendala dalam masalah pembayaran SPP, SKS dan variabel lain yang menjadi kewajibannya untuk dibayar. Diprediksi, akan terjadi peningkatan jumlah mahasiswa yang ambil selang kuliah atau bahkan berhenti kuliah. Orang tua yang awalnya berkeinginan menguliahkan anaknya akan berpikir ulang, bahkan membatalkan, karena kena PHK, usahanya gulung tikar, dagangannya sepi dan sebab-sebab lainnya. Hal inilah yang menjadi persoalan bagi Perguruan Tinggi Swasta. Karena sumber pendapatan utama dari Perguruan Tinggi Swasta dari mahasiswa. Sulit dibayangkan jika mahasiswa yang masih aktif kuliah ada kesulitan membayar dan perolehan mahasiswa baru suatu Perguruan Tingggi Swasta menurun drastis.

Lantas, bagaimana untuk membiayai penyelenggaraan Perguruan Tinggi, jika penyelenggara tidak mempunyai sumber lain. Disadari sepenuhnya bahwa anggaran yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan operasional Perguruan Tinggi tidaklah sedikit. Padahal biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh perguruan tinggi dimasa pandemi covid 19 tidaklah berkurang.

Kepala Lembaga Layanan Dikti wilayah Jakarta ,seperti dikutip CNN Indonesia, Minggu 26 April, mengatakan, 80 persen Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta mengalami kesulitan membayar gaji dosen dan karyawan dalam satu sampai dua bulan mendatang. Jika ini benar-benar terjadi maka eksintensi dan keberlanjutan Perguruan Tinggi Swasta terancam. Oleh karena itu, mulai sekarang penyelenggra dan pengelola Perguruan Tinggi Swasta dalam hal ini pimpinan Perguruan Tinggi Swasta dan Yayasan harus bersatu padu bergandengan tangan, menyamakan persepsi dan pikiran untuk melakukan langkah-langkah strategis yang antisipatif untuk bisa bertahan dan bahkan berubah lebih maju. Tindakan strategis yang antisipatif inilah dalam bahasa ekstrimnya disebut kunci yang menentukan hidup matinya Perguruan Tinggi Swasta.

Oleh kerana itu, mencegah dan menghentikan pandemi covid 19 adalah hal yang penting dan utama. Peran civitas akademika untuk memberi konstribusi nyata bersama instansi dan lembaga lain harus terus dilakukan. Mari kita hentikan dan cegah wabah covid 19 mulai dari diri sendiri, dari sekarang, melalui cara-cara kecil dan sederhana.(*)


Hima PGSD Unisri Bantu Warga Terdampak Covid-19

SOLO-Himpunan Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Slamet Riyadi Surakarta menggelar bhakti sosial, kemarin.Mereka membagikan paket sembako dan masker bagi warga kurang...

ZIS PHBI Unisri Tahun Ini Meningkat 30 Persen

Dalam situasi pademi covid-19 kesadaran dan kepedulian civitas akademika Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta untuk berbagi meningkat. Hal ini dibuktikan pengumpulan Zakat, Infaq...

Himakom Fisip Unisri Gelar Short Movie Competition

Dalam rangka membantu pemerintah dalam penanganan pandemi covid-19, Himpunan Mahasiswa Komunikasi (Himakom) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Slamet Riyadi (Unisri)...

Unisri Permudah Syarat Beasiswa KIP Kuliah-Bagi Masyarakat Kurang Mampu Dan Terdampak Covid-19

SOLO-Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta mempermudah persyaratan bagi calon mahasiswa kurang mampu dan atau terdampak covid-19 yang hendak kuliah di perguruan tinggi itu...

Ujian Doktor Via Daring Yustina Wuri Wulandari Dosen Fatipa Unisri Lulus Program Doktor FTP UGM

Pandemi Covid-19 membawa dampak positif dalam proses pembelajaran. Ujian Program Doktor yang biasanya sakral dan mengeluarkan biaya puluhan juta bisa dilaksanakan lebih efektif...

PTS Merana Karena Corona

Oleh : SutoyoWakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjsama Universitas Slamet Riyadi SurakartaAlumni Program Doktor Ilmu Pendidikan UNS GONJANG ganjing pandemi corona virus...

Unisri Bantu Biaya Makan Mahasiswa Tidak Mudik Dampak Virus Corona

SOLO-Sebagai konsekuensi dari pelaksanaan kuliah daring (online) serta tindak lanjut dari Surat Edaran (SE) Nomor : 302/E.E2/KR/2020 dari Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan, Universitas...

Copyright 2020 | UNISRI